Transparansi Pengelolaan Keuangan Desa Gununglangit
TPP P3MD Kalibening Banjarnegara Jawa Tengah
Transparansi Pengelolaan Keuangan Desa, termasuk Dana Desa, Gununglangit Kecamatan Kalibening Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah
Green School Community SMA Negeri 109
Anonymous
SMA Negeri 109 Jakarta yang berlokasi di Jalan Gardu No.31 Srengseng Sawah Jagakarsa Jakarta Selatan, merupakan salah satu sekolah di wilayah DKI Jakarta yang berwawasan lingkungan. Berawal dari tahun 1989 sebagai Sekolah Pendidikan Guru (SPG) 3 Jakarta yang kemudian dihapus pemerintah, beralih fungsi menjadi SMA ex SPG 3 dan pada tahun 1992 resmi menjadi SMA Negeri 109 Jakarta. Sekolah ini terletak di lingkungan yang asri, jauh dari kebisingan jalan raya, udaranya sejuk sehingga di ruangan kelasnya tidak menggunakan penyejuk ruangan (AC) juga terletak di pinggiran sungai Ciliwung namun sekolah ini dijamin bukan salah satu daerah rawan banjir karena letaknya diatas sungai Ciliwung. Dengan lahan yang berukuran luas 11.010 m2 dengan beberapa blok bangunan sekolah terdiri dari tiga lantai baik di gedung A maupun gedung B, dalam waktu dekat juga akan dilakukan pembangunan gedung baru lagi yang direncanakan akan dibuat untuk ruangan laboratorium kimia, laboratorium biologi, ruang OSIS dan perpustakaan. Lahan seluas itu tidak hanya dipenuhi oleh gedung melainkan juga terdapat dua lapangan yaitu lapangan A yang digunakan untuk upacara dan bermain futsal baik pada saat pelajaran olah raga maupun pada saat ekstrakurikuler, dan lapangan B yang biasanya digunakan untuk latihan pramuka, bermain basket, latihan taekwondo dan latihan karate.Sekolah ini juga memiliki beragam jenis tanaman baik tanaman hias maupun tanaman buah. SMA Negeri 109 Jakarta juga memiliki sebuah taman yang cukup unik dan sebuah pendopo yang terletak di tengah – tengah sekolah. SMA Negeri 109 terdiri dari 21 kelas untuk kelas X, XI, dan XII . Baik kelas X,XI dan XII terdiri dari 7 kelas (4 kelas jurusan Matematika dan Ilmu Alam, 3 kelas jurusan Ilmu – Ilmu Sosial) dimana masing – masing kelas terdiri dari 36 siswa, jadi kurang lebih jumlah siswa keseluruhan dari sekolah ini 756 siswa. SMA Negeri 109 termasuk salah satu sekolah yang memiliki lahan terluas di provinsi DKI Jakarta. Dengan lahan yang luas ini sejumlah siswa beserta seorang guru bidang studi Biologi pada tahun 2015 membentuk sebuah komunitas yang dinamakan Penataan Lingkungan Sekolah (PLS). Penataan Lingkungan Sekolah yang pada saat itu hanya beranggotakan siswa dan siswi yang memiliki minat dan tujuan yang sama yaitu untuk menata, merawat, melestarikan dan memelihara lingkungan sekolah serta mengajak seluruh warga sekolah untuk lebih peduli dengan lingkungan. Setelah beberapa bulan terbentuk Ibu Ismawati selaku penggagas dan pembina PLS dipindahtugaskan ke sekolah lain maka posisinya digantikan oleh Ibu Tita sebagai guru pembina baru. Kemudian nama PLS diubah menjadi Green School Community (GSC). Hingga saat ini GSC memiliki anggota kurang lebih 60 orang yang terdiri dari siswa dan siswi SMA Negeri 109 Jakarta serta beberapa orang guru. Sampai saat ini beberapa anggota GSC telah dua kali mengikuti kegiatan Open House Biovillage yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Seminar di Universitas Nasional, dan satu kali mengikuti kegiatan Sosialisasi Penyelenggaraan Tata Ruang Kepada Pelajar SMA/SMK di Provinsi DKI Jakarta. Dengan turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, GSC dapat menambah wawasan dan pengetahuan untuk kemudian diterapkan dalam upaya pemeliharaan lingkungan sekolah bahkan mencoba menerapkan hal – hal baru yang didapatkan serta membaginya kepada yang lain. Setelah beralih dari PLS menjadi GSC, komunitas ini pun memiliki beberapa tugas tambahan yaitu merealisasikan program – program dari PLS yang belum dapat dilaksanakan sebelumnya, yaitu membuat Taman Obat Keluarga atau TOGA yang ditanami dengan jahe, lengkuas, rosela, beluntas, kumis kucing, dan bawang india serta ada pula tanaman buah – buahan seperti pohon jambu biji, pohon buah tin, pohon jeruk, pohon sirsak, pohon cabai serta tanaman pandan. Selain TOGA ada juga Green House yang merupakan salah satu perwujudan misi sekolah yang berbunyi : Menumbuhkan rasa percaya diri, kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Green House ini bernama Green House Rajawali Muda. Dibangun berdasarkan situasi dan kondisi dari sekolah yang telah rindang dan hijau untuk melestarikan keanekaragaman tumbuhan yang telah ada dan digunakan sebagai media pembelajaran bagi siswa. Green House didominasi oleh tanaman anggrek yang merupakan hasil praktikum bidang studi Biologi kelas X tahun ajaran 2015/2016. GSC juga memiliki sebuah rumah kompos yang bertujuan untuk memanfaatkan daun – daun yang berguguran di lingkungan sekolah untuk diubah menjadi pupuk kompos. Mempraktikan teknik hidroponik dalam penanaman sayuran organik, namun untuk program ini belum didapat hasil yang sesuai dengan harapan GSC. Anggota GSC bersama dengan anggota Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) juga membuat beberapa lubang biopori yang berfungsi untuk meningkatkan daya resap air pada tanah, penanganan limbah organik, membuat kompos alami dari sampah organik serta mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit.Para anggota GSC juga memiliki tugas rutin yang dilakukan setiap hari yaitu perawatan tanaman yang berada di lingkungan sekolah yang meliputi penyiraman tanaman, membersihkan area taman dari sampah maupun dedaunan kering, merapikan tanaman dan juga memeriksa jentik nyamuk. Melihat potensi internal sekolah seperti ketersediaan lahan merupakan objek pengembangan konsep sekolah hijau. Dalam hal ini yang menjadi fokus utama adalah menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan melalui proses pembelajaran dan penerapannya. Penerapan konsep sekolah hijau dapat dilakukan melalui tiga langkah yaitu pertama, bidang kurikuler, yaitu mengaitkan konsep sekolah hijau dengan bidang studi yang ada. Guru yang bersangkutan diharapkan untuk mampu menggabungkan pembelajaran dengan pemahaman dan pengalaman belajar yang dapat diterapkan siswa dikehidupan sehari – hari seperti ajakan hemat energi & air dan daur ulang sampah melalui proses 3R yaitu reduce, reuse, dan recycle. Kedua, bidang ekstrakurikuler yaitu dengan membentuk sebuah wadah yang menyatukan kepedulian dan minat siswa terhadap lingkungan dan upaya pelestariannya, contohnya seperti pembentukan Green School Community yang berada di SMA Negeri 109 Jakarta. Ketiga, pengelolaan lingkungan seperti pemanfaatan dan penataan lingkungan sekolah menjadi laboratorium alam seperti kebun untuk siswa menanam buah - buahan, tanaman obat – obatan sebagai media pembelajaran, rumah kompos sebagai pemanfaatan sampah organik ,dan Green House sebagai tempat untuk mengembangkan kreativitas siswa dalam menata dan membudidayakan tanaman hias. Anggota Green School Community juga diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada siswa lain untuk mampu menjaga, merawat, memelihara serta melestarikan lingkungan sekolah, karena siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan apabila lingkungan sekolah dapat ditata dan dikelola dengan baik, maka akan menjadi wahana yang sangat efektif dalam proses pembentukan perilaku peduli lingkungan. Upaya GSC untuk mencapai tujuannya memang tidaklah mudah, namun apabila diberi dukungan dan dorongan yang baik dari semua pihak yang terkait, bukanlah hal yang tidak mungkin. Agar semua itu berjalan sesuai tujuan diperlukan adanya komunikasi dan koordinasi yang baik antara pihak sekolah (yang meliputi kepala sekolah, guru dan karyawan sekolah) dengan siswa di sekolah tersebut, selain itu juga dibutuhkan dukungan dari orang tua siswa.
Kisah Kasih Di Sekolah
M.Taufiq Al Hakim
Di sma ini pengalaman tentang persahabatan, akademis bahkan percintaan sangatlah tak terlupakan
Dugderan Kota Semarang
Atik Minarto
Siswa siswi SMAN 1 Semarang berpartisipasi dalam mensukseskan agenda tahunan Pemerintah Kota Semarang dalam menyambut bulan Ramadhan. Siswa siswi yang tergabung dalam ekstra kurikuler paskibra dan perwakilan siswa siswi SMAN 1 Semarang menyemarakkan datangnya Ramadhan.

CERITA TERBARU


0
0
0